Antara Abai dan Peduli Delik Kisah Waktu dan Ilmu




“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” Tan Malaka.

Sepenggal kalimat yang baru saja kalian baca nampaknya terlalu sombong seakan bujuk khayalan tentang hal paling ideal harus terjadi. Menjadi pintar adalah jalan untuk menuju kebajikan dan kebajikan adalah akses menuju kebijaksanaan, seutas kalimat yang ku yakini sangat kuno, jadul, katrok dan fana. Aku lupa kapan terakhir aku terbangun dan dengan sadar mengobarkan niatan untuk membuka dan membaca buku yang berlapis-lapis halamanya itu terlihat menjemukan dan membosankan. Aku juga lupa kapan terakhir kali aku tidak bisa tidur dan memikirkan di rongga kepalaku tentang apa makna dari suatu kata, kalimat bahkan kejadian yang baru kubaca, kudengar atau kualami di hari ini. Bahkan sangat jauh aku jelas lupa kapan aku bertemu dengan kawanku untuk berbagi keresahan dan pandangan yang kutubnya saling bertentangan namun dalam satu rasa dan tujuan yang terbagi. Ya, aku lupa banyak hal dan aku berada bersama kita semua yang menyampahkan dan membanggakan kelupaan itu. 

Waktu berjalan tanpa jeda dan tanpa aba-aba dia tetap teguh pada tugasnya untuk melaju tanpa memedulikan siapa yang pernah beriringan bersamanya. Manusia-manusia yang peka dan sadar akan dahaga rasa ingin tahu adalah dasar tindakan kebaikan dan pintu kebijaksanaan perlahan lebih banyak yang pamit undur ketimbang berdesak untuk tampil. Waktu yang apatis dan acuh memang begitu sudah jadi kodratiahnya untuk ya.. tutup mata akan apapun, sungguh melas nian nampaknya saudara waktu ini, namun ada kawan yang selalu bersanding dengannya dan memberi terang disaat pasti perjalanannya yakni dia yang bernama ilmu. 

Entah apa yang dibenaknya ia rela menemani dan memberi terang dalam perjalanan waktu. Sepi, sunyi, terjal, curam, berliku, gelap dan rungkut potret alur perjalanan waktu tapi kok ya sosok bernama ilmu senantiasa ada dan membagi terang dan kebersamaannya dengan waktu. Sungguh terhormat dan mulialah peringai si ilmu, sosok apatis saja ia temani dan ia terangi ia juga yang kadang mengingatkan waktu agar menjaga jalannya, karena ia tahu ransel yang dipunggung si waktu harus dijaga. Ilmu senantiasa menjaga waktu beserta ransel bawaanya dengan memberi petunjuk dengan terang yang ia punya agar saat waktu berjalan ia tahu medan perjalananya, agar ia dapat berjalan dengan mulus dan agar isi ranselnya tidak terkoyak. Tiada ragu ‘a good guy save the whole journey’

Posting Komentar

0 Komentar

advertise

Subscribe Text

Ayo Ubah Bersama Kami!