Aksi Kreatif: Tropicália Movement

Pergerakan merupakan hal yang tidak asing di dunia. Pergerakan dapat diartikan sebagai perjuangan yang dilakukan oleh individu maupun kelompok untuk memperbaiki suatu kondisi (Tirto, K. 2015). Biasanya, pergerakan seringkali identik dengan demonstrasi yang terkadang dikaitkan dengan ‘kerusuhan’ atau ‘kekerasan’, padahal tidak semua begitu. Pergerakan harus dikaji terlebih dahulu, dan dilakukan secara damai atau dengan nonviolent resistance. Berbagai cara dapat dilakukan dalam pergerakan secara kreatif, salah satunya seperti yang terjadi di Brazil pada tahun 1960s, yaitu Tropicália atau Tropicalismo. 

Apa itu Tropicália? Dilansir dari Britannica, Tropicália, atau juga dikenal sebagai Tropicalismo, adalah sebuah pergerakan yang berlangsung di Brazil yang dikemas secara estetik dalam bentuk musikal dan hiburan seperti rock shows, konser, dan pembacaan puisi dengan alat musik elektrik pada tahun 1968 hingga berakhir pada tahun 1969. 

Tropicália menggunakan aliran musik tradisional Brazil yang diakulturasi dengan aliran pop barat sebagai bentuk kebebasan berekspresi mereka. Selain itu, isi dari pergerakan itu bukan hanya berupa ekspresi dalam akulturasi, namun juga sebuah cara dalam sindiran politis. Tropicália berlangsung saat Brazil sedang mengalami kondisi junta militer atau pemerintahan diktator militer yang berlangsung pada 1 April 1964 sampai 15 Maret 1985 yang mengakibatkan kerugian ekonomi dan inflasi, maupun nyawa, yaitu dikabarkan total 434 orang meninggal dunia atau hilang. Saat itu, berbagai pergerakan mulai bermunculan, termasuk pergerakan Tropicália.

Dimulai karena pembunuhan tiga siswa Brazil yang saat itu mengikuti aksi diikuti oleh banyak orang, seperti penyanyi, band, penulis, seniman, hingga kaum intelektual. Dilansir dari Tropicalia.com, pergerakan Tropicália telah menjadi sejarah historis dan revolusi dari kemajuan bidang musik di Brazil, yang pada sangat itu sangat terbatas. Pergerakan ini semakin lama menjadi semakin populer, hingga berbagai kalangan dan generasi turut serta dalam pergerakan ini. 

Semua seniman berbondong-bondong melakukan aksi melalui karyanya, yang menyindir pemerintahan saat itu. Namun, pergerakan ini secara resmi ‘berakhir’ pada tahun 1969 saat seniman bernama Caetano Veloso dan Gilberto Gil ditangkap dan diasingkan oleh pasukan militer pemerintah karena karyanya yang secara spesifik menyindir kasus pembunuhan tiga siswa yang beraksi pada tahun 1968 (Dikutip dari soundofuniverse.com). 

Meskipun Tropicália berlangsung singkat dan kediktatoran masih tetap berlanjut, pergerakan ini tetaplah menjadi secercah harapan dan revolusi, terutama pada bidang seni di Brazil. Lalu, apakah pergerakan ini efektif? Apakah bisa disebut sebagai kegagalan, atau justru kemenangan? Bila secara mentah, kita bisa katakan pergerakan ini adalah pergerakan yang gagal karena gagal memberi revolusi dalam politik di Brazil dan masih terjalannya kediktatoran pada saat itu. 

Namun, hal tersebut tidak bisa ditelan mentah-mentah. Walaupun gagal merubah kediktatoran, pergerakan ini telah efektif melepas belenggu ekspresi Brazil dalam berkarya, selain itu, hal penting lainnya adalah pergerakan ini telah berhasil mencuri perhatian dan empati masyarakat mengenai kondisi darurat negara, hingga semua orang mulai ikut berkespresi dan beraksi. Bisa dibilang, Tropicália telah membuat langkah dan harapan untuk pengakhiran kediktatoran Brazil. Bukti saat itu, setelah Tropicália berakhir, aksi mulai bermunculan lebih banyak dan dengan berbagai macam cara hingga menarik perhatian dunia. 

Yang namanya ‘gagal’ bukan berarti gagal, masih ada cara lain dan tentunya evaluasi. Kemudian, apakah pergerakan ini bisa kita coba? Tentu saja bisa, ditambah dengan hal lain yang merupakan hasil dari evaluasi. Misalnya, dalam menarik massa, biasanya kan kalau bikin aksi dan poster pasti udah manas manasin duluan dan berarti yang ikut itu yang udah panas, nahh kita bisa membuat aksi dalam bentuk musikalisasi dan theater, atau festival, yang pengajakannya kita kemas secara menarik seperti poster pentas seni, dan tentunya tetap memberi penjelasan tentang apa yang akan dibawakan (tema dan isi singkat) dan tidak secara eksplisit ngompor ngomporin, tapi dibuat bahasa estetik ala ala theater. Kemungkinan banyak orang akan tertarik dan mikir “hah ini festival? Theater? atau aksi? Aksi memang bisa bentuknya kayak gini ya?”. 

Selanjutnya, pada tempat itu juga selain panggung dan tempat, kalau bisa pun kita mengajak para pedagang kaki lima turut ke sana, tujuannya selain supaya mereka bisa jualan dan membantu ekonomi mereka, ini juga semakin membuat suasana ‘festival’ karena selain pertunjukan pasti juga ada yang jualan ya kan huhu walau kayaknya terkesan low budget gpp deh ya :’) tapi kalau ada budget lebih, bisa lebih dimatangkan lagi konsepnya gimana caranya biar itu ‘festival banget’. 

Terus, di sana pastinya ada rundown, kalau bisa acara itu dikemas secara asik, party party gitu gan. Sehingga masyarakat menjadi tertarik, namun empatinya juga dapat. Sebenarnya pun aksi dengan cara carnival ini sudah sering dilakukan di berbagai negara, salah satunya juga di Brazil. Mereka selalu melakukan aksi secara kreatif dan asik, dan diberi feedback positif oleh masyarakat dan media massa.

Penulis : Elina

Posting Komentar

0 Komentar

advertise

Subscribe Text

Ayo Ubah Bersama Kami!