Arab Spring (Musim Semi Arab) sebuah istilah yang digunakan merujuk kepada
gerakan demonstrasi di berbagai negara Jazirah Arab menuntut adanya perbaikan kondisi
kehidupan masyarakat, menuntut pemerintahan yang bersih, dan sebagainya. Gerakan ini
dimulai pada sekitar bulan Desember 2010 dan sampai saat ini di beberapa wilayah menjadi
perang saudara yang nerlarut-larut. Beberapa permasalahan yang mendera wilayah arab adalah
kemiskinan, pengangguran, pembangunan yang tidak merata, KKN, HAM, demokrasi, serta
banyak pemimpin otoriter.
Tunisia
Mohammad Bouazizi mungkin tidak akan mengira bahwa aksinya pada bulan
Desemeber 2010, akan memberi dampak yang begitu besar dan menjadi titik balik sejarah di
negara-negara kawasan tersebut, bahkan hingga kini masih terjadi di negara-negara
tetangganya wilayah Timur Tengah dan Semenanjung Maghrib. Bouazizi, seorang pemuda
penjual buah di jalanan Kota Sidi Bouazid, 300 KM arah selatan Kota Tunis, Ibukota Tunisia,
sebuah negara yang sebelumnya telah dipimpin oleh rezim Presiden Zine El Abidine Ben Ali
atau yang singkat dengan Ben Ali sejak 1987.
Goldstein dalam Anam, dkk. (2015) mengatakan
bahwa Bouazizi sebenarnya adalah lulusan universitas yang terpaksa menerima hidup dengan
pekerjaan kasar tersebut. Hal ini membuktikan bahwa kondisi masyarakat Tunisia di bawah
kepemimpinan Ben Ali tidak sejahtera. Ben Ali sebelumnya adalah seorang perdana menteri
di masa kepemimpinan Presiden Habib Bourguiba sebelum melancarkan Revolusi Jasmin pada
1987 karena menganggap Bourguiba tidak kompeten.
Dinamakan Revolusi Jasmin karena Ben
Ali menemui dokter untuk membuat laporan medis palsu yang menerangkan bahwa Bourguiba
tidak mampu dan tidak dapat menajalankan perannya sebagai presiden (Agastya; 2013)
Di dalam penelitiannya, Anam, dkk (2015) menyatakan bahwa Bouazizi berjualan
tanpa mengantongi izin resmi dan sudah menjadi target penertiban aparat setempat.
Di Sidi
Bouazid, sudah menjadi rahasia umum untuk melakukan praktik suap kepada aparat keamanan
agar bisa tetap dapat berjualan. Saat gerobak dagangan yang menjadi satu-satunya penopang
kondisi ekonominya disita, ia sempat melakukan protes terhadap aparat tersebut, yang lantas
mengeluarkan hinaan dan kekerasan fisik terhadapnya. Ia kemudian pergi kepada kantor
Gubernur setempat untuk mengadukan nasibnya tetapi tidak membuahkan hasil dan hanya
menambah rasa frustasinya kepada pemerintah.
Ia kemudian pergi untuk membeli bensin dan kembali ke depan kantor gubernur untuk
melancarkan aksinya dengan membakar diri dan menjadi pusat perhatian. Ia lantas kemudian
mendapatkan perawatan khusus bahkan hingga mendapatkan kunjungan dari Ben Ali sendiri.
Tetapi akhirnya meninggal pada 4 Januari 2011.
Apa yang dilakukan Bouazizi kemudian
menjadi pemberitaan di seluruh Tunisia dan dunia internasional setelah video bakar dirinya
tersebar melalui berbagai media sosial seperti facebook, twitter, dan youtube. Aksinya juga
menjadi pemantik berbagai demo di seantero Tunisia menuntut kehidupan yang lebiih baik.
Demonstrasi ini juga mendapatkan perlakuan represi dari aparat sehingga menambah rasa
kemuakan dengan sistem yang ada.
Ben Ali sebelum jatuh dari tampuk kekuasaan sempat berjanji akan segera memperbaiki
keadaan, tetapi hal tersebut tidak mampu mejaganya dari revolusi yang terjadi sehingga pada
14 Januari 2011 pemerintah dilengserkan dan digantikan pemerintahan darurat. Ben Ali
akhirnya bernasib sama seperti pendahulunya Habib Bourguiba digulingkan secara paksa dari
tampuk kekuasaan. Bedanya, jika Bourguiba diturunkan oleh elit politik menggunakan taktik
yang halus dan tanpa korban, maka Ben Ali digulingkan melalui pergerakan rakyat yang muak
akan kekuasaannya dan diwarnai kekerasan oleh aparat.
Beberapa tahun pasca revolusi dikutip dari tirto.id, Tunisia masih diguncang
demonstrasi karena kondisi ekonomi yang masih lamban dan tingkat pengangguran yang masih
tinggi.
Mesir
Sejak aksi yang dilakukan Bouazizi, dunia arab seperti mendapatkan efek domino, aksiaksi protes massa dilakukan hampir diseluruh jazirah arab, tak terkecuali Mesir. Negeri para
Firaun ini saat itu dipimpin oleh dictator berlatar belakang milliter, Hosni Mubarak yang
menjadi presiden menggantikan pendahulunya, Anwar Sadat yang tewas dibunuh pada 1981.
Selama masa pemerintahannya, Mubarak menerapkan pemerintahan yang represif, korup, dan
dianggap sudah terlalu lama. Rakyat Mesir yang muak dan terinspirasi aksi yang dilakukan di
Tunisia kemudian menggelar demonstrasi yang terpusat di Tahrir Square, Kairo.
Demonstrasi
selama 18 hari tersebut akhirnya mampu membuat Mubarak mengundurkan diri pada 11
Februari 2011.
Selain permasalahan tuntutan yang sama akan pemerintahan yang buruk, rakyat mesir
tergerak melalui media sosial akibat dari nasib yang diterima oleh Khaled Said, seorang
pemuda yang disiksa oleh intelijen Mesir hingga tewas (Syukur dalam Anam, 2015).
Di dalam
laporan The Guardian yang dikutip tirto.id melaporkan tagar #Jan25 yang merujuk kepada
tanggal awal protes massa di Mesir mengalami peningkatan traffic dari 2.300 tweet menjadi
130.000 tweet perhari seminggu sebelum kejatuhan Mubarak. Hal ini menunjukkan bahwa
media sosial mampu menjadi sarana baru untuk menjadi sarana propaganda untuk
menggerakkan massa.
Setelah Mubarak jatuh, ia kemudian digantikan oleh Muhammad Mursi, yang
merupakan presiden terpilih secara demokratis dan merupakan seorang dari faksi Ikhwanul
Muslimin.
Akan tetapi, Mesir masih belum terlepas dari gelombang demonstrasi, pada 2013
Mursi digulingkan oleh pihak oposisi dengan bantuan militer pimpinan Jenderal Abdul Fattah
al-Sisi yang lantas kemudian menjadi Presiden Mesir hingga saat ini. Dikutip dari BBC, alasan
Mursi dikudeta karena ia dianggap lebih mengutamakan stabilitas kontrol politik daripada
menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi negeri tersebut.
Mesir sampai saat ini masih
menjadi pemegang rekor di Kawasan Jazirah Arab dengan banyaknya kudeta dalam waktu
yang singkat, yaitu 2 kudeta dalam waktu 2 tahun.
Pergerakan di massa kepemimpina El-Sisi tidak lantas padam, pemerintahannya sama
saja dengan pendahulunya, dianggap otoriter, represif dan korup. The Guardian melaporkan
bahwa lebih dari 1.900 demonstran ditangkap pihak keamanan saat demonstrasi menuntut Sisi
mundur pada September 2019.
Libya
Muammar Khadafi, dictator Libya yang berkuasa kurang lebih sekitar 42 tahun sejak
1969 juga harus merasakan pahitnya revolusi, ia menjadi daftar pemimpin berikutnya yang
harus lengser dari kekuasaannya. Berbeda dengan yang terjadi di Mesir dan Tunisia,
penggulingan Khadafi bukan terjadi karena demonstrasi, memang awalnya dari demonstrasi
yang berubah menjadi perang saudara (Libyan Civil War). Khadafi sendiri akhirnya tewas
setelah pasukan pemberontak berhasil menemukan persembunyiannya di Kota Sirte, timur
Ibukota Tripoli.
Libya dibawah pemerintahan Khadafi dikutip dari beberapa sumber adala negara yang
otoriter, melakukan pelanggaran HAM, banyak terjadi korupsi, dan seringkali terlibat dengan
berbagai organisasi pemberontakan di seluruh dunia. Ia juga menjadi salah satu pemimpin yang
anti degan barat sehingga ia juga cukup di waspadai oleh musuh-musuhnya.
Delapan tahun pasca Khadafi lengser, Libya masih terlibat dengan konflik, kali ini
adalah Perang Saudara Kedua (Second Libyan Civil War) antara GNA (Government of
National Accord) yang didukung PBB melawan pasukan pemberontak LNA (Libyan National
Army). Kondisi di Libya diperparah dengan banyaknya perselisihan antar suku tradisional di
Libya yang menambah rumit keadaan dan belum nampak tanda akan berakhir.
Suriah
Kondisi Suriah lebih parah, rezim Bashar Al-Assad masih berdiri tegak, tetapi perang
sipil masih berkecamuk. Kondisi Suriah semakin runyam karena banyaknya intervensi asing
yang secara terang-terangan ikut terlibat. Rusia beserta pasukan Hizbullah dari Lebanon
mendukung rezim Al-Assad, Iran juga mendukung rezim karena faktor ideologis Syiah.
Sementara di kubu pemberontak yang berafiliasi dengan kelompok Sunni mendapatkan
bantuan dari Turki, Arab Saudi dan Amaerika Serikat.
Laporan yang dikutip dari Kompas
menyatakan, bahwa sejak perang meletus pertama kali pada Maret 2011 hingga saat ini telah
merenggut nyawa 364 ribu orang dari berbagai faksi yang terlibat.
Negara lain
Selain keempat negara tersebut, banyak negara di Kawasan Timur Tengah hingga
Afrika Utara yang mengalami demonstrasi, tetapi hasilnya berbeda-beda, beberapa berhasil
menggulingkan pemerintahan seperti di Yaman dan Aljazair, beberapa mampu membuat
restrukturisasi pejabat negara seperti Yordania dan Oman, beberapa hanya demonstrasi tanpa
hasil.
Meskipun tidak semua berhasil malah menghasilkan konflik lanjutan, fenomena Arab
Spring mampu mengguncang dunia sebagai titik balik atas berbagai rezim di Kawasan tersebut
yang telah berkuasa telalu lama dan cenderung bermasalah yang menimbulkan rasa tidak puas
dan perlawanan dari rakyat. Media Sosial dalam Arab Spring juga menjadi sarana propaganda
yang efektif untuk menyuarakan aspirasi dan tuntutan.
Sayangnya seperti yang sudah disebutkan, Arab Spring malah menimbulkan konflik
lanjutan di beberapa negara karena berbagai kepentingan yang saling berseberangan.
Tampaknya wilayah Timur Tengah hingga Afrika Utara masih akan menjadi wilayah yang
paling bergejolak saat ini karena berbagai peperangan dan konflik yang terjadi dan tidak ada
tanda akan segera berakhir. Semoga harapan akan pemerintahan yang demokratis bukanlah hal
yang utopis
Penulis : Muhammad Arif




0 Komentar