Subkultur hippie awalnya sebuah gerakan pemuda yang muncul di Amerika Serikat selama pertengahan 1960-an dan menyebar ke negara lain di seluruh dunia. Hippie identik dengan sekelompok masyarakat yang mencintai kedamaian, yang kerap kali menggunakan symbol cinta. Di Amerika Serikat sendiri subkultur ini sangat populer.
Secara etimologis, hippie berasal dari kata hipster yang pada awalnya digunakan untuk menggambarkan beatniks yang pindah ke Haight-Ashbury distrik San Fransisco. Pada masyarakat Barat, istilah hippie sudah menjadi pengetahuan umum dan diasosiasikan secara berbeda-beda. Ada yang mengasosiasikannya sebagai gaya berpakaian, gaya berperilaku dan gaya hidup. Sementara itu, ada juga beberapa orang mengklasifikasikan para pecandu narkoba, penggemar rock and roll atau pandangan politik yang radikal sebagai hippie. (Stone, 2008:11)
Hippie, atau juga disebut hippy adalah gerakan counterculture di era 1960 sampai 1970 yang menentang kehidupan mainstream Amerika. Gerakan ini berawal dari kampus-kampus di Amerika, dan kemudian menyebar ke penjuru negara, seperti Kanada dan Britania. Hippie menjelma menjadi gerakan yang kompleks yang meliputi berbagai aspek, seperti identitas, pakaian, hingga simbol-simbol. Setidaknya ada beberapa hal yang melatarbelakangi munculnya Gerakan Hippie ini. Kemunculan Hippie pada decade 1960an tidak bisa dilepaskan dari situasi yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.
Kemenangan Sekutu di Perang Dunia II mengantarkan Amerika Serikat pada kemakmuran di bidang ekonomi. Kemenangan dalam perang memunculkan semangat antusias dalam pikiran rakyatnya, ditambah efek dari kebijakan “New Deal” dari presiden Franklin D. Roosevelt, industri swasta sepenuhnya berfokus pada tujuan sipil dan kemungkinan untuk kembali memasuki perdagangan Eropa sehingga mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi (Kunkel, 2005:1). Surplus ekonomi terjadi di Amerika yang mengakibatkan rendahnya tingkat pengangguran, keuangan negara maupun kelurga aman. Impikasinya adalah ketiadaan rasa khawatir untuk memiliki banyak keturunan.
Surplus ini kemudian menjadikan banyak orang mapan di usia muda lalu menikah dan banyak memiliki anak. Periode ini kemudian juga disebut sebagai periode baby-boomer. Kegembiraan dan optimisme setelah perang ditambah kemakmuran ekonomi pasca perang tampaknya membuat pasangan muda merasa mampu dan bersedia untuk membesarkan anak-anaknya (Macunovich, 2000:1-2). Selain perkembangan ekonomi dan ledakan penduduk, Perang Dunia II memberikan dampaknya di bidang hubungan politik antar negara. Uni Soviet merupakan pemenang di Perang Dunia II, dan merupakan negara paling kuat kedua di samping Amerika Serikat.
Periode setelahnya adalah masa perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Hal ini memicu ketakutan warga masing-masing negara. Sejak kecil anak-anak diajarkan apa yang harus dilakukan jika terjadi ledakan atom dengan cara yang tidak jauh dari indoktrinasi (Kunkel, 2005:2). Keadaan di dalam situasi Perang Dingin menciptakan kultur politik Amerika Serikat menjadi radikal Komunis atau seseorang yang secara politik dianggap terlalu “kiri” disingkirkan oleh institusi semacam FBI (Federal Bureau of Investigation. Situasi politik saat itu sangat tidak menyenangkan bagi kaum komunis di Amerika Serikat. Terjadi pula masalah rasisme yang terjadi di Amerika saat itu. Sisa-sisa realitas historis Amerika Serikat yang sarat akan rasisme masih belum bisa dihapuskan saat itu.
Masyarakat kulit hitam mengalami rasisme, pendindasan ras, hingga diskriminasi. Pada tahun 1959, Student for a Democratic Society (SDS) terbentuk dan nantinya menjadi kelompok yang paling berpengaruh dalam mengorganisir demonstrasi dan protes. Kelompok ini juga yang mengawali munculnya gerakan new left di America. Kelompok ini terdiri dari generasi baby boomer yang ada sejak beberapa tahun sebelumnya.
Mereka adalah generasi muda yang memiliki kapasitas intelektual yang baik. Kelompok inilah yang memperjuangkan kedamaian, solidaritas, anti-militerisme, anti-kapitalisme dan antitotaliterisme Pada bulan November tahun 1963 Amerika dan masyarakat dunia dikejutkan oleh kematian tragis Kennedy, pemimpin yang mendedikasikan dirinya kepada perdamaian telah terbunuh.
Hal ini diinterprestasikan sedemikian rupa oleh warga amerika bahwa kekerasan bisa mengalahkan perdamaian. Semua faktor diatas mendasari lahirnya beat Generation, sebuah kelompok yang dijuluki oleh media dengan istilah “beatniks” atau “beat”.
Meskipun awalnya hanya sebuah subkultur tetapi beatniks memberikan pengaruh besar terhadap lahirnya New Left dan hippie. Pemimpin mereka umumnya adalah intelektual muda. Pusat dari budaya beat terletak pada figur penyair dan sastrawan terkemuka seperti Jack Kerouac dan Allen Ginsberg, yang keduanya turut andil dalam membangun pondasi awal dari budaya beat di North Beach, San Fransisco dan menyebarkannya ke seluruh negara (Issit, 2009:2). Puisi dan lirik lagu yang mereka bawakan umumnya tentang cinta dan penolakan akan perang.
Gerakan beat menyebar luas ke penjuru negara melalui musik jazz dan kedai-kedai kopi Menurut Tarrow (1998), gerakan sosial merupakan politik perlawanan yang terjadi ketika rakyat biasa yang bergabung dengan para kelompok masyarakat yang lebih berpengaruh menggalang kekuatan untuk melawan para elit, pemegang otoritas, dan pihak-pihak lawan lainnya. Gerakan sosial selalu terjadi di hampir seluruh dunia. Ketika ketidak adilan muncul, rakyat yang kritis dan menolak kemapanan akan menyatukan kekuatan lalu melayangkan tuntutan kepada subyek penyebab ketidak adilan yang terjadi.
Gerakan Hippie yang melebar ke seluruh dunia merupakan gerakan sosial. Gerakan sosial selalu ditandai adanya tantangantantangan untuk melawan melalui aksi langsung yang mengganggu para elit, pemegang otoritas, kelompok-kelompok lain atau aturan-aturan kultural tertentu. Tantangan yang diajukan kaum Hippie di sepanjang decade 60an adalah penghapusan perang. Motto mereka sangat terkenal hingga saat ini; make love not war.
Pada mulanya, sebagai gerakan counterculture, mereka ingin menghapuskan perang dan rasisme. Tuntutan yang paling mereka gaungkan adalah penolakan terhadap perang Vietnam. Penentangan terhadap perang dan diskriminasi sosial tercermin dalam lirik-lirik lagu bernadakan protes sosial.
Gerakan Hippie bukanlah gerakan yang anarkis dan penuh akan aksi demonstransi beberapa hari. Barangkali itulah yang menjadikan gerakan hippie ini unik. Tanpa kekerasan mereka bisa mengampanyekan tujuan dan visinya. Protes yang mereka lakukan ‘hanya’ kumpul di suatu tempat dengan membawa poster tentang anti perang, anti rasisme, dan lain-lain.
Mereka berkumpul untuk bernyanyi lagu-lagu kedamaian. Melalui puisi para penyair beat melakukan pemberontakan ideologi dan budaya terhadap budaya dominan. Gerakan mereka cukup berhasil mempengaruhi Amerika menjadi lebih liberal yang menjunjung kebebasan individu.
Penulis : Derby Pambudi




0 Komentar