Gerakan Akar Rumput Hari Bumi; Peran Manusia dalam Keberlangsungannya

Peradaban manusia tentu saja tidak lepas dari tempat yang menaunginya. Ya, benar selama ini kita secara sadar atau tidak telah menetapi ruangan yang senantiasa menyediakan segala macam kebuthan bagi kita sebagai manusia. Tempat itu kerap disebut dan dinamai Bumi. Bumi memberi sejuta kemanfaatan bagi mahluk yang mendiaminya, tidak hanya untuk manusia saja, bumi tanpa diskriminasi menyajikan berbagai kebutuhan bagi tumbuhan, hewan dan makhluk hidup lainnya sesuai dengan kadar dan kebutuhan masing-masing. 

Kebaikannya tidak kenal henti, kemanfaatannya sampai sekarang masih kita rasakan. Udara gratisnya yang setiap detik kita bergantung padanya untuk bertahan hidup, pemandangan-pemandangan yang indah yang selalu memanjakan mata, dan keindahan lain yang membuat kita terbuai hingga kita menjadikan bumi laksana surganya para manusia. Sajian yang terhampar tanpa pamrih membuat kita kadang lupa akan kewajiban merawat dan melindunginya. Sudah sejauh apakah kita sadar tentang sisi gelap perlakuan para manusia yang menganggap bumi ini seperti surga, tetapi tindak tanduknya merusak dan menyakiti tanpa henti. 

Tanahnya dikeruk, pohonya ditebang, kekayaan laut dirampas habis-habisan. Sudah selama ini kehidupan berlangsung, kekejian terhadap bumi masih saja berjalan. Sehingga, bumi meperlihatkan banyak luka dengan kerusakan yang ada didalamnya. Kini bumi semakin menua, sisi gelapnya semakin melebar, tetapi kesadaran manusia masih terbutakan dengan segala kekayaan alam yang tersedia yang menanti untuk dinikmati. 

Berdasar atas kegelisahan dari berbagai ancaman kepunahan, timbul berbagai gerakan semacam revolusi kesadaran. Revolusi yang mengubah pola pikir setiap orang agar mencintai, merawat dan menjaga bumi. Gerakan tersebut berdamapak luas sehingga terbentuklah gerakan hari bumi, dan sekrang kita kenal dengan peringatan hari bumi internasional. 

Pergerakan Hari Bumi Peringatan Hari Bumi bukan diartikan sebagai awal terbentuknya bumi ini atau lahirnya bumi, tetapi hari ketika manusia sadar dan sangat prihatin terhadap kerusakan yang terjadi di muka bumi akibat tindak tanduk manusia, sekaligus hari itu bermakna bahwa hari ketika manusia berjuang menghendaki kelestarian bumi dan lingkungan hidupnya. Oleh karenanya hari bumi dapat dikatakan sebagai hari jadi lahirnya sebuah pergerakan kepedulian manusia terhadap bumi dan lingkungan hidupnya. 

Pergerakan kepedulian terhadap bumi itu esensinya mengajak manusia agar berbuat atau melakukan tindakan cara pemanfaatan sumber daya alam maupun tindak tanduk manusia lainnya yang mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan, serta melakukan perbaikan atau rehabilitasi terhadap setiap sumber daya alam dan lingkungan hidup yang telah terdampak perbuatan buruk manusia yang kondisinya rusak. 

Perjuangan mengenai pergerakan kepedulian manusia terhadap bumi dan lingkungan hidupnya dimulai dan dilakukan oleh prakarsa Gaylord Nelson seorang senator Amerika Serikat pada tanggal 22 April 1970, sehingga pada saat itu dijadikan hari dan tahun pertama peringatan Hari Bumi. Beberapa tahun sebelumnya, Gaylord melakukan berbagai upaya untuk mengampanyekan upaya pelestarian hidup, namun baru pada tanggal 22 April 1970 beliau berhasil menggerakkan kesadaran masyarakat Amerika Serikat turun ke jalan melakukan kampanye, demonstrasi, dan protes kepda pihak pemerintah dan kalangan politikus di Amerika Serikat agar segera melakukan tindakan peduli terhadap kesehatan serta pencegahan dan penanggulangan kerusakan lingkungan. 

Terhitung sampai tanggal 22 April 2019 kemarin telah memasuki tahun ke-49 Hari Bumi. Peringatan Hari Bumi dijadikan momentum bagi setiap orang di seluruh penjuru dunia untuk menghayati makna hari bumi, kemudian melakukan introspeksi, lalu berbuat nyata dalam mencegah dan menanggulangi terjadinya kerusakan lingkungan. Peringatan Hari Bumi bukan hanya acara seremorial saja, tetapi harus ditindaklanjuti dengan tindakan nyata dalam pengelolaan sumber daya alam atau lingkungan hidup secara baik dan benar. Respon masyarakat telah mendunia sebagaimana kerusakan lingkungan hidup itu berlangsung dan berdampak pada seluruh manusia di dunia. Respon tersebut terbukti dengan adanya perundangn-undangan internasional dan perjanjian-perjanjian internasional. 

Sebagai Contoh, ada Protokol montreal yang ditandatangani pada 16 September 1987, kemudian diberlakukan tanggal 1 Januari 1989 dan hingga saat ini telah mengalami sembilan kali revisi tentang substansi perjanjian tersebut. Pada tahun 1992 ada KTT Bumi yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brazil yang diikuti 150 Negara, lalu menghasilkan Perjanjian Rio mengenai cara mengurangi pemanasan global. Kemudian ada protokol Kyoto mengenai konvensi rangka kerja PBB tentang perubahan iklim, yaitu sebuah persetujuan sah bahwa negara-negara industri akan menngurangi emisi gas rumah kaca. 

Protokol Kyoto tersebut ditetapkan pada 12 Dessember 1997 dan mulai diberlakukan pada tanggal 2005 dan kadaluarsa pada tahun 2012. Semangat dari berbagai negara yang peduli terhadap lingkungan telah mengantisipasi masa berlakunya Protokol Kyoto dengan melakukan Konfrensi Perubahan Iklim PBB tahun 2007 yang diselenggarakan oleh UNFCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) di Bali hingga sampai konferensi ke-21 yang merupakan konferensi tahunan UNFCC yang diadakan di Paris 30 Novemer sampai 12 Desember 2015 sejak UNFCC berdiri pada tahun 1992.

Konfrensi tersebut bertujuan untuk mengurangi pemanasan global sebagaimana perjanjian-perjanjian terdahulu tentang upaya mengurangi pemanasan global. Masih banyak lagi berbagai jenis konvensi internasional yang berkaitan dengan pergerakan upaya penyelamatan bumi dan lingkungan hidupnya. Pandangan Keberlangsungan Bumi Memperingati hari bumi pada hakikatnya manusia harus mau berubah sikap dan perilakunya terhadap bumi beserta sumber daya alam yang dikandungnya, baik ketika manusia sendiri menjadikan bumi sebagai tempat tinggal dan beraktivitas maupun ketika manusia mengeksploitasi sumber daya alam yang ada untuk memenuhi kebutuhan hidup dan penghidupannya. 

Sikap dan perilaku yang bagaimana yang harus di terapkan? Jawabanya adalah sikap dan perilaku yang ramah lingkungan, yaitu tidak merusak tatanan sistem ekologis, tidak mencemari lingkungan, dan perilaku yang senantiasa memelihara proses-proses ekologis di bumi ini. Kesadaran mengenai kelestarian lingkungan harus ditanamkan sejak dini pada masyarakat dan harus berkelanjutan agar gerakan hari bumi akan tetap hidup serta berdampak, bahkan sampai usia tua-pun harus terus diingatkan dan dikembangkan. 

Kesadaran sosial akan dapat ditumbuhkan melalui pemberian informasi tentang lingkungan, dengan harapan mampu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat sehingga dapat mewujudkan perilau cinta bumi dan lingkungan hidupnya. Pengetahhuan mengenai pentignya menjaga lingkungan perlu di tingkatkan untuk semua orang. Hal tersebut perlu dilakukan untuk menyadari apa saja dampak yang ditimbulkan apabila kita tidak melindungi bumi. Upaya yang dapat dilakukan manusia untuk melindungi bumi dapat dilaksanakan pendidikan lingkungan hidup (Desfandi, 2015). 

Gerakan yang dapat dilakukan setiap hari seperti melakukan penanaman pohon, mendaur ulang sampah, mengurangi polusi dengan bersepeda dan tidak membakar sampah sembarangan (Morton, 2016). Mengembangkan masyarakat untuk kesadran peduli lingkungan diharapkan dapat efektif di sampaikan melalui pendidikan lingkungan sekolah (Desfandi 2015). Sebagai tempat belajar, sekolah dapat membantu siswa untuk memahami dampak perilaku manusia di bumi serta pentingnya bumi sebagai tempat hidup yang berkelanjutan. 

Demikian yang bisa disampaikan penulis terkait pergerakan Hari Bumi yang merupakan dasar pergerakan lingkungan. Penulis juga mengajak pembaca agar mengawal isu lingkungan serta menjaga keberlangsungan gerakan hari bumi dan gerakan peduli terhdap lingkungan

Penulis : Arifin Setyo Budi

Posting Komentar

0 Komentar

advertise

Subscribe Text

Ayo Ubah Bersama Kami!