Dua Sisi Mata Uang Kapitalisme

Kapitalisme suatu paham yang jamak diperbincangkan dan mengisi sudut-sudut ruang kelas, kedai kopi mahal nan culture sampai warung kopi dan pos ronda di pelosok kampung. Frasa kapitalisme yang sering kita dengar tentu terdengar biasa namun wah.. aroma-aroma obrolan sampai pagi menjelang akan terjadi nampaknya.

sederhananya kapitalisme dapat diartikan sebagai paham atau pandangan yang menempatkan modal sebagai kekuatan utama dalam suatu sistem perekonomian. Modal disini tentu punya asal muasal yakni modal yang dimaksud adalah uang, tenaga kerja, mesin dan tanah yang dimiliki oleh seseorang yang mana modal tersebut dapat menjadi awal dari kegiatan produksi suatu barang.

Barang yang dihasilkan oleh proses produksi tersebut tentunya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan si produsen, maka kelebihan barang tersebut pastinya akan ditukar dengan barang lain yang menjadi kebutuhan si produsen dimana barang tersebut tidak dapat ia produksi sendiri. Ujung dari proses tersebut kemudian adalah jual beli dimana terjadi pertukaran barang dan jasa hasil produksi antara satu individu dengan individu lain yang memiliki produk berbeda dan tepatnya ialah setiap orang memiliki perbedaan jenis produk yang kemudian terciptalah konsep yang bernama spesialisasi.

Setiap individu memiliki spesialisasi masing-masing tentunya agar kespesialannya dapat ia jual dan mendapatkan uang sebagai bentuk nilai tukar untuk memenuhi kebutuhan lain yang ia miliki namun tidak bisa ia hasilnya sendiri.

Sungguh panjang bukan sekedar mendeskripsikan satu frasa ini, meskipun sebenarnya ini hanya logika atau pengartian sederhana dari alur pikir yang lebih tebal dan panjang soal kapitalisme. Ada satu hal yang cukup terselubung dari kapitalisme yakni ruh dari kapitalisme yang muncul dan tenggelam jika obrolan tentang kapitalisme terjadi, yakni kebebasan.

Kebebasan nyatanya merupakan ruh utama kapitalisme dimana semua hal tentang memiliki kesempatan untuk melakukan produksi dan memilih spesialisasi dan masuk kedalam suatu sistem pertukaran barang dan jasa yang bernama pasar didasarkan satu hal mutlak yakni kebebasan. Tanpa kebebasan maka hanya ada satu jenis barang yang diproduksi yakni barang atau jasa yang diperintahkan dan dibatasi untuk diproduksi, tanpa kebebasan maka hanya satu orang saja yang diperkenankan melakukan produksi dan selain itu tidak boleh dan tanpa kebebasan hanya satu produsen dan satu jenis barang saja yang akan masuk ke pasar dan dibeli semua orang.

Dalam basa-basi kapitalisme ini sebenarnya ada satu tajuk yang bisa digarisbawahi yakni kapitalisme adalah hewan liar, bebas dan memiliki kehendak sendiri selalu menjadi ancaman karena dia selalu berusaha memangsa yang lebih lemah darinya. Berbahaya? Jelas ia sangat berbahaya dan mengancam hak hidup pihak yang menjadi mangsanya, maka si hewan liar ini sangat perlu untuk dikendalikan.

Kapitalisme agaknya berdiri diantara dua sisi bayangan terkadang ia condong ke kanan namun juga tak mustahil ia juga mencondongkan diri ke arah kiri. Kanan dan kiri tentu bukan semata-mata bermaksud dalam hal ideologi yang populer selama ini soal kanan dan kiri, ini murni perumpamaan saja.

Disisi kanan ia akan menjadi motor untuk inovasi dan daya cipta manusia dan tentu ini semua menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi manusia dengan mendorong melalui adanya kebebasan dalam berpikir dan berinovasi. Kenapa berpikir dan berinovasi menjadi motor dan kenapa harus ada pikiran dan inovasi ? tentu jawabanya adalah survival alias bertahan hidup.

Iklim kapitalisme yang memiliki kebebasan tentu akan melahirkan turunan bernama persaingan, setiap manusia yang diawali kebebasan nyatanya punya kesamaan sifat dasar yakni punya kebutuhan dan keinginan yang acapkali sumber pemenuh kebutuhan dan keinginan itu terbatas. Tentu hal tersebut mendorong otak manusia terus berputar untuk menemukan solusi atas permasalahan tersebut sebagai upaya bertahan hidup.

Kebebasan melahirkan inovasi namun kebebasan juga melahirkan persaingan dan tiada bukan persaingan berujung pada bunuh membunuh karena persaingan memiliki satu titik niscaya yakni nafsu. Nafsu memenangkan persaingan kemudian nafsu menghilangkan pesaing untuk mendapat kekuasaan mutlak dan mari kita saksikan sifat dasar manusia tersebut menjadi suatu alur kompleks.

Dari kebebasan memilih jalan hidup menjadi dorongan berpikir dan berkarya dari adanya pemikiran dan karya tercipta persaingan satu sama lain untuk bertahan hidup dengan berpegang pada nafsu bahwa jika aku tidak berpikir dan berkarya maka tiada hal yang kutukarkan untuk memenuhi kebutuhan hidupku, dari pemikiran dan karya itu lahirlah persaingan antara siapa yang bisa mendapat lebih besar dan siapa yang tidak dan dari persaingan itu timbulah nafsu untuk berkuasa dan menikmati semuanya sendiri.

Dan akhirnya selamat datang di belantara, hukum rimba siapa yang kuat ia yang menang siapa yang berani dan tega dia yang kenyang dan siapa yang mau berlumur darah ia yang dapat kuasa dan nikmat segala.



Posting Komentar

0 Komentar

advertise

Subscribe Text

Ayo Ubah Bersama Kami!