Chile: Mengapa reformasi belum usai di 1998

Indonesia dan Chile adalah dua negara yang meski terpisah oleh Samudera Pasifik dan berada di dua benua yang berbeda memiliki sebuah kesamaan. Keduanya memiliki sejarah rezim diktator non-demokratis lengkap dengan berbagai teror sipil ala militer (Cuffe, 2019). 

Warisan rezim diktator ini sangat menarik karena ia sangatlah mirip. Negara dengan kelas politik pada sebagian kecil elit, ketimpangan kekayaan yang tinggi, dan ketidakpercayaan orang-orang umumnya pada pemerintahan. Demontrasi di Chile awalnya bermula dari suatu hal yang “sepele” sebenarnya. Pemerintah Chile memutuskan untuk menaikan harga angkutan umum Metro sebesar 4 sen atau kurang lebih Rp.600 (Bremmer, 2019). Angkutan umum yang digunakan oleh hampir semua orang Chile baik pekerja kantoran, pelajar, dan buruh. Mengapa? Itu karena hal ini bukan sekedar perkara ongkos yang naik. Ini adalah masalah ketimpangan yang luar biasa besar sehingga kenaikan Rp.600 begitu terasa bagi penduduk biasa Chile. 

Penduduk Chile hidup di negara yang paling kaya di Amerika Selatan, namun paling timpang. Sebuah penilitian di Chile mengatakan bahwa 1% penduduk terkaya di Chile menguasai 33% seluruh kekayaan negara tersebut (Johanson, 2019). Ketimpangan ini telah menghasilkan sebuah dunia yang sangat berbeda dalam masyarakat Chile. Presiden Chile ketika menaikan harga Metro itu barang kali tidak berpikir panjang mengingat betapa kecilnya kenaikan itu berarti baginya. Sedangkan bagi lebih dari 50% masyarakat Chile yang hidup dibawah $550 per-bulan kenaikan ini berarti segalanya untuk kemampuan mereka bertahan hidup. 

Kenaikan tarif ini kemudian memicu gelombang demonstrasi dan pergerakan di Chile. Pergerakan di Chile yang sedang terjadi dimulai oleh harga Metro namun, bukan itu lagi masalahnya. Chile seperti yang telah dikatakan ialah negara yang berada dibawah seorang diktator militer bernama Augusto Pinochet (1973-1990) (Kandell, 2006). 

Konstitusi Chile 1980 dibuat pada masa ini dan menekankan bentuk ekonomi ala liberal-kapitalis yang meniadakan kewajiban negara untuk membantu masyarakatnya, cukup biarkan saja pasar bekerja katanya (Bartlett, 2019). Masyarakat Chile yang berdemonstrasi berpikir “Diktator kita sudah tumbang sejak 1990, lalu mengapa kita hampir 30 tahun setelahnya masih menggunakan konstitusi ini?”. Masyarakat Chile jelas marah mengapa bisa produk rezim militer yang jelas-jelas ialah hasil kepentingan segelintir elit masih dipakai sampai sekarang? Masyarakat Chile yang sekarang berjuang untuk merubah konstitusi mereka sejalan dengan semangat demokratisasi mereka. 

Mereka turun ke jalan untuk melanjutkan perubahan sosial yang tertunda karena tentunya menghapus diktator tidak berhenti pada penggulingan orangnya saja namun, juga pada sistem yang ia tinggalkan. Sebuah negeri bekas diktator, usaha demokratisasi (reformasi) yang belum tuntas, dan ketimpangan antara elit dan masyarakat luas, serupa sekali dengan cerita di tanah ibu pertiwi ini. Perlawanan di Chile menuntut keadilan dan demokrasi dapat dikatakan cukup menginspirasi. Inspirasi yang dapat kita gunakan untuk belajar dan menerapkannya disini di tanah air kita. 

Perlawanan di Chile dapat terjadi salah satu faktor utamanya ialah karena dimulai oleh kelompok pelajarnya (Cuffe, 2019). Pelajar sebagai manusia dalam keadaan belum dibebani pekerjaan yang menyita waktu seperti buruh ataupun pegawai kantoran, belum tua untuk kehilangan semangat bertarungnya, dan terutama ialah mereka yang lahir pasca diktator. 

Pelajar Chile yang saat ini ialah mereka yang lahir di Chile yang bebas dan demokratis tidak takut untuk bersuara dan menuntut demokrasi mereka. Tapi perlu diingat, pelajar ini tidak bergerak sendiri. Buruh, pekerja kota, dan pelajar di Chile semua serentak melawan pemerintah. Pelajar memang memulai, tapi tidak kemudian sendiri itulah pelajaran pertama yang dapat diambil. Gerakan di Chile menyulitkan pemerintah dan memaksa mereka untuk terus melakukan konsesi dan memunuhi tuntutan demonstran karena ketiadaan “pemimpin” para demonstran (Bremmer, 2019). 

Pemerintah Chile kesulitan melakukan lobi ataupun penargetan pada demonstran karena tidak adanya struktur dalam demonstran. Tidak ada ketua pelajar, pemimpin serikat buruh, ataupun tokoh untuk dibujuk menurunkan tuntutan. Tidak peduli seberapa banyak orang dipenjara tampaknya demonstrasi tetap terus berjalan jika tidak tambah masif. Ini adalah pelajaran kedua, menghadapi negara yang jelas lebih kuat daripada kita yang hanya orang-orang yang peduli akan pilu negeri ini tentu kita harus strategis. 

Strategi yang ditempuh oleh orangorang Chile ialah meniadakan sosok sentral/tokoh dalam pergerakan mereka. Perjuangan mereka ialah perjuangan bersama, bukan perjuangan si A, B, atau C. Setiap demonstran memiliki kesadaran diri mengapa ia turun ke jalan, semua demonstran ikut membawa tuntutan bersama mereka. Strategi meniadakan kemampuan pemerintah untuk membujuk rayu ataupun membungkam orang (kecuali memnjarakan seluruh negara ialah keinginan mereka). Dua pelajaran yang dapat saya ambil dari rekan kita yang memperjuangkan hak-nya diseberang samudera sana. 

Perjuangan dan pergerakan terutama untuk reformasi negeri menuju demokrasi belum selesai. Struktur yang ditinggalkannya masih ada dan dengan tingkah laku para oligark ibu pertiwi saat ini nampaknya mereka semakin menguat. Marilah kita bekali diri kita dengan pelajaran dari Chile atau darimanapun tempat orang-orang berjuang untuk demokrasi dan keadilan.

"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan Dituduh subversif dan mengganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: lawan!" - Wiji Thukul -

Penulis : Muhammad Athallah

Posting Komentar

0 Komentar

advertise

Subscribe Text

Ayo Ubah Bersama Kami!