![]() |
| Arak-arakan kemenangan Joko Widodo di Bundaran HI seusai pelantikan sebagai Presiden RI |
2024 menjadi akhir dari periode kepemimpinan Joko Widodo dalam tampuk kepresidenan. mulai berkuasa sepuluh tahun silam yakni pada tahun 2014, terpilihnya Jokowi menjadi awal mula kisah yang sungguh epic dalam sejarah negeri ini. Pertama kali seorang pemimpin tertinggi di republik terpilih dari golongan rakyat sipil biasa dan bukan berasal dari keluarga seragam hijau angkatan darat atau trah keluarga besar pejabat zaman awal kemerdekaan.
Jokowi begitu populer dan dielukan sebagai pemimpin rakyat karena rekam jejaknya yang berangkat dari jenjang birokrasi tingkat kota dan kemudian provinsi dan latar belakangnya yang merupakan warga sipil biasa alias ia merupakan rakyat biasa dari keluarga biasa sebelum kemudian berkiprah di kancah politik. gaya kepemimpinannya dalam menerapkan kebijakan dalam jabatan-jabatan yang pernah ia emban pun sangat lekat dengan kesan egaliter dan kesederhanaan. dialog dengan warga yang akan direlokasi untuk kepentingan pembangunan dan flagship berupa kegiatan blusukan dengan menemui langsung masyarakat di lapangan menjadi penokohan yang kuat seorang Jokowi sebagai pemimpin rakyat.
Perolehan 53,15% dari total 132.896.438 suara pada Pemilihan Presiden 2014 menjadi awal tonggak kepemimpinan Jokowi dimulai. Hiruk pikuk kemeriahan masyarakat yang menyambut kemenangan Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla sebagai wakil presiden membludak dan memenuhi jalan-jalan khususnya di Ibukota Jakarta. untuk kali pertama posisi tertinggi di republik ini ditempati seorang dengan latar belakang seperti halnya rakyat Indonesia kebanyakan tentu membawa harapan dan kegembiraan bahwa demokrasi kita mulai maju dan matang. siapapun dengan latar belakang keluarga apapun dan dari manapun ia berasal berhak dan memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari proses dan tata kelola kepemimpinan negara, ya itulah harapan awal yang ada di benak banyak rakyat negeri ini.
![]() |
| Joko Widodo saat masa kampanye mengenakan baju kebesaran bermotif kotak-kotak merah-hitam di Monumen Proklamasi sebagai lambang basis ideologi Sukarnois partai pengusung uatamanya yakni PDIP |
Awal pemerintahan Joko Widodo menjadi suatu kejutan, presiden dengan kesan pemimpin rakyat ini ternyata bernyali besar dalam mengambil keputusan-keputusan dalam menerapkan kebijakan yang sangat tidak populis. menaikkan harga BBM adalah langkah berani yang paling dihindari oleh presiden-presiden sebelumnya berani ia tempuh. pembangunan infrastruktur gila-gilaan juga menjadi program yang selalu ia galakan dan ia banggakan, ribuan kilometer jalan, puluhan waduk dan bendungan serta puluhan bandara dan pelabuhan dibangun secara massif. langkah nyata seorang presiden dengan masa kepemimpinan yang baru beberapa tahun sudah mampu menghasilkan capaian dari lebih dari satu presiden pendahulu bahkan jika digabungkan. belum lagi reformasi di sektor birokrasi dan tata kelola BUMN menjadi salah satu hal yang cukup dirasakan dan bisa dibilang membanggakan, pelayanan yang lebih membaik dan menganggap masyarakat sebagai subjek ketimbang uang berjalan atau beban subsidi yang disampahkan oleh pegawai-pegawai BUMN.
Ya, slogan Jokowi adalah kita rakyat kebanyakan, rakyat biasa pada umumnya terasa nyata. gap sosial antara si pegawai dan si petani, si kaya dan si miskin mulai terkaburkan dengan kebijakan dan ketokohan Joko Widodo yang menjadikan hak dan kewajiban semua rakyat sebagai warga negara menjadi beradab dan adil.
2019 adalah tahun dimana perubahan kembali terasa, ya sangat terasa. tahun politik dimana pertaruhan masa jabatan kedua seorang Jokowi telah dipertaruhkan. gelombang sentimen masyarakat islam terhadap rezim pemerintahan Jokowi naik cukup signifikan akibat dinamika di ibukota Jakarta yang tereskalasi ke tingkat nasional. Basis massa yang terpecah dan terkutub pada Pilgub DKI nyatanya berimbas ke ranah nasional dan memberi tambahan kekuatan kepada rival Jokowi dalam kontestasi yakni Prabowo Subianto yang dalam hal ini dapat memanfaatkan momentum dengan tepat, meskipun pada akhirnya tampuk kekuasaan tetap masih dipegang oleh Joko Widodo dengan perolehan 85.607.362 suara atau 55,50 persen.
Jumlah suara yang cukup dominan dimana langkah Jokowi menggandeng seorang tokoh Islam yakni KH. Ma'ruf Amin sebagai wakilnya mampu menyedot sekup-sekup suara pemilihan berlatar belakang islam dengan memberi perbedaan dengan pemilih dengan latar belakangan islam yang dikeruk oleh Prabowo Subianto yang mendapatkan basis dari golongan islam yang cenderung berbasis di kawasan urban. Perolehan suara yang menghasilkan kemenangan inilah yang kemudian membuat seorang Jokowi mulai berani dan bahkan lebih terbuka dalam bertindak dan periode kedua kepemimpinannya inilah yang kemudian memperlihatkan seni menyatukan tangan dan tersenyum di depan sementara keris yang tajam dan sudah terasah sudah siap tersemat dibelakang. (bersambung)




0 Komentar